Skip navigation

Anna, istriku yang cantik dan baik hati itu, adalah seorang guru dan juga ngajar les. Kemaren waktu jemput dia di rumah murid lesnya, si ibu (ibu murid les) ngomel soal nilai si anak yang jelek2. Waktu kita mau pulang, dia bilang sama anaknya, “Boleh istirahat 1 jam, abis itu belajar Bahasa Indonesia.” Padahal itu udah jam 6.30 sore, GILA! mau belajar sampe jam berapa? Kasian banget anak umur 10 tahun belajar dari pagi sampe malam..

Gue liat kondisi ini terjadi karena adanya pemikiran anak perlu diperlengkapi dengan pelajaran tambahan sesudah sekolah untuk mendongkrak nilainya. Tambahan pelajaran itu untuk memperlengkapi atau menghukum? “Kamu sih nilainya jelek, makanya harus les lagi..” gitu kata si ibu, pasti diantara kata2 yang gak terucap ada keluhan soal biaya les juga.. Les dan beasiswa, menurut gue, keduanya adalah hal yang baik kalau digunakan secara benar. Masalahnya, sekarang ini les dan beasiswa berada di jalur yang salah, terbalik.

Nilai anak kurang kemungkinan karena dia gak suka pelajaran tsb. Lalu dikasih les. Dengan begitu, artinya dia akan lebih tersiksa, mengikuti pelajaran yang dia gak suka dengan waktu yang lebih lama. Untungnya pelajaran2 yang biasa di-les-in adalah pelajaran2 eksakta (ilmu pasti) dan bahasa aja. Gak ada les pelajaran Sejarah atau IPS/Ilmu Pengetahuan Sosial atau PMP/Pendidikan Moral Pancasila (sekarang denger2 nama pelajarannya diganti jadi PPKN — gak tau singkatan apa), betul kan? Teori Multiple Intelligence mengajak orang tua dan guru untuk fokus pada kekuatan atau potensi anak didik. Misalnya si anak cepat menyerap pelajaran bahasa, fokuskan pada pelajaran bahasa. Jangan siksa dia dengan les matematika, dst yang dia gak suka. Memang karena kondisi dunia pendidikan mengharuskan nilai diatas batas minimum nilai kelulusan, maka pelajaran2 lain pun gak boleh jelek2 amat. Tapi seseorang itu gak perlu jago di semua bidang. Besok deh gue nulis terusan topik ini, ttg spesialisasi.

Lalu, pemberian beasiswa juga aneh. Yang diberi adalah anak-anak berprestasi. Logikanya, anak bisa berprestasi karena makannya bergizi (dalam arti cukup materi), kondisi keluarganya baik, dst. Kalo yang seperti ini yang diberi beasiswa, berarti memperjauh jarak antara mereka yang miskin dan bodoh dengan mereka yang cukup/kaya secara materi. Kenapa pemerintah gak ngasih beasiswa ke mereka yang miskin dan bodoh? Justru mereka2 inilah yang perlu ditolong. Jadi gue bisa bilang, sekarang ini program beasiswa salah arah!

Waktu Yesus ke rumah pemungut cukai dan makan dengan orang berdosa, kemudian orang Farisi menegur murid2Nya, lalu Yesus berkata “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. ” (Mat. 9:12) Tindakan kontroversial itu benar2 tepat sasaran dan memperjelas bahwa Yesus datang bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyelamatkan mereka yang berdosa, yang sakit. Kalau yang sehat atau merasa sehat, pasti gak butuh dokter (dalam konteks kekinian, gak cuma dokter aja tapi juga psikolog & konselor).

Iklan

2 Comments

  1. mengenai beasiswa,
    masalahnya beasiswa itu skrg bukan lagi derma melainkan investasi. Investor gak mau menghandle risk yang terlalu tinggi dengan membiayai anak2 yang mereka tidak yakin akan memberi return sebaik mereka yang dipercaya sebagai bibit unggul. Logis kan?

    Kalo bantuan untuk anak2 yg kurang mampu sih ada… buat anak2 yang prestasinya gak begitu menonjol dan gak punya ongkos ke sekolah, gak mampu bayar uang sekolah, dsb. Dipikir2 memang vital sekali ya bantuan untuk anak2 ini. Mungkin perlu lebih banyak sosialisasi aja kali 🙂

  2. untuk memberikan tambahan pelajaran pada anak perlu langkah bijak, jangan sampai dengan tambahan justru prestasi anak justru semakin anjlok karena tertekan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: