Skip navigation

Disadari atau tidak oleh pemerintah dan masyarakat, sesungguhnya sudah lebih 35 tahun hari raya Paskah, yakni peringatan kebangkitan (hidup kembali) Yesus Kristus, tidak tercantum dalam kalender umum Indonesia.

Yang pasti selalu tercantum dalam kalender nasional adalah hari “Wafat Yesus Kristus” yang pasti jatuh pada hari Jumat. Di kalangan umat Kristen, hari besar peringatan kematian (penyaliban) Yesus Kristus lazim disebut Jumat Agung.

Seingat penulis, pada tahun-tahun 1960-an di kalender umum selalu tercantum hari raya Paskah (dua hari setelah Jumat Agung). Waktu itu dalam kalender umum bahkan tercantum hari raya Paskah I dan II (Minggu dan Senin).

Hari raya Paskah II meskipun dalam kalender umum berwarna merah (hari besar) namun dinyatakan bersifat fakultatif. Artinya, pegawai, pekerja, siswa dan mahasiswa boleh libur, boleh tidak libur.

Dalam beberapa puluh tahun terakhir, kita tak pernah lagi menemukan hari raya Paskah dalam kalender umum. Hari terbesar di kalangan umat Kristen itu dapat kita temukan hanya pada kalender-kalender khusus yang diterbitkan oleh lembaga-lenmbaga gerejawi dan beredar hanya di lingkungan warga gereja-gereja Tanah Air.

Dalam kalender khusus tersebut selalu tercantum hari raya Paskah I dan II (Minggu dan Senin). Kita tidak tahu pasti sejak kapan hari raya Paskah dihapuskan dari kalender umum. Namun bila kita memperhatikan hal ini dengan cermat, penghilangan hari raya besar tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa setelah Yesus Kristus mati dibunuh (disalibkan) dengan sangat sadis oleh orang-orang Yahudi, Ia tidak bangkit (hidup kembali).

Dengan pencantuman hari “Wafat Yesus Kristus” dalam kalender umum tanpa diikuti pencantuman hari raya Paskah, maka dapat timbul kesan, seolah-olah riwayat Yesus Kristus sudah tamat untuk selama-lamanya setelah Ia dibunuh dan dikuburkan. Sadar atau tak sadar, pemerintah selama lebih 35 tahun telah menganaktirikan hari raya Paskah.

Ini padahal hari raya terbesar di kalangan umat Kristen di manapun di muka bumi ini. Sebagai ilustrasi, selama pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, bila hari raya keagamaan jatuh pada Minggu, itu pasti tercantum dalam kalender umum. Esok harinya (Senin) dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Masih sangat segar dalam ingatan kita peringatan hari raya Nyepi pada Minggu, 21 Maret 2004, dan Senin, 22 Maret 2004 libur hari raya Nyepi. Jadi, dua hari berturut-turut merupakan libur nasional.

Mundur sedikit, Minggu, 1 Februari 2004, merupakan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1424 H), dan esok harinya (Senin, 2 Februari 2004) merupakan libur hari raya Idul Adha. Juga masih kita ingat dengan jelas, Minggu, 22 Februari 2004 hari raya Tahun Baru Hijriyah (1 Muharram 1425 H). Besoknya, Senin, 23 Februari 2004 secara resmi dinyatakan sebagai hari libur Tahun Baru Hijriyah.

Ketiga hari raya keagamaan berikut hari-hari liburnya jelas sekali tercantum dalam semua kalender yang terbit dan beredar di negeri ini. Melalui tulisan ini, kita tidak menuntut agar pemerintah mulai tahun depan mencantumkan Senin (hari Paskah II) sebagai libur hari raya Paskah. Yang kita tuntut hanyalah agar pemerintah bersikap adil dalam pencantuman hari-hari raya keagamaan dalam kalender umum.

Pemerintah yang bijak dan adil tentunya tidak menganaktirikan hari raya Paskah. Singkat kata, mulai tahun depan (Minggu, 27 Maret 2005) hari raya Paskah seyogianya tercantum (kembali) pada kalender umum atau semua kalender yang terbit dan beredar di Tanah Air.

Soal esok harinya (Senin, 28 Maret 2005), apakah dinyatakan atau tidak dinyatakan sebagai libur nasional, ini tidak terlalu penting bagi umat Kristen di negeri ini. Yang terpenting, hari raya Paskah tidak dianaktirikan dalam kalender umum.

Sekadar perbandingan, tahun ini pemerintah menetapkan Pemilihan Umum (Senin, 5 April dan Senin, 5 Juli) sebagai hari libur nasional. Pemilu padahal murni urusan duniawi belaka.

Gereja Juga

Sadar atau tak sadar, sebagian (besar?) orang Kristen juga sesungguhnya telah menganaktirikan hari raya Paskah. Mereka merayakan dan memaknai Paskah hampir sama saja dengan kebaktian Minggu.

Tak sedikit orang Kristen yang tidak merasa salah sedikitpun ketika mereka tak menghadiri perayaan (kebaktian) Paskah. Mengucapkan selamat Paskah sambil berjabat tangan saja pun mereka masih tampak enggan atau canggung.

Banyak gereja (jemaat) dari segi tampilan fisik saja tak menunjukkan bahwa hari raya Paskah akan/sudah tiba. Coba lihat, apakah ada gereja-gereja yang dihias, misalnya dengan janur kuning dan lampu-lampu warna-warni, dalam rangka menyambut dan merayakan Paskah.

Apakah ada rumah-rumah orang Kristen yang dihias khusus dalam rangka perayaan Paskah? Pabrik-pabrik kartu ucapan mana yang mau mencetak dan memperdagangkan kartu Paskah?

Lihatlah toko-toko buku Kristen, misalnya, sangat langka yang menjual kartu Paskah, karena memang permintaannya sangat langka. Di sini murni berlaku hukum permintaan dan penawaran.

Bukti lainnya, pada penyusunan program kerja dan anggararan jemaat pada awal tahun, misalnya, sadar atau tak sadar mereka menganaktirikan perayaan Paskah, dan sebaliknya menganakemaskan hari raya Natal (peringatan kelahiran Yesus Kristus). Ini jelas sekali terlihat dari anggaran yang dialokasikan untuk kedua pesta gerejawi tersebut, kadang-kadang perbedaannya seperti langit dengan bumi.

Tak sedikit gereja (jemaat) yang tak menyiapkan anggaran untuk perayaan Paskah, karena memang tidak ada kegiatannya. Paskah dirayakan sama saja dengan kebaktian Minggu biasa.

Akan tetapi tidak demikian halnya dengan pesta Natal. Banyak jemaat atau warga Kristen yang “habis-habisan” dalam perayaan Natal sepanjang Desember.

Berbagai cara dan aktivitas mereka buat untuk merayakan dan memaknai hari lahir Sang Juru Selamat. Kelahiran Yesus Kristus padahal tak berarti apa-apa tanpa kematian dan kebangkitanNya.

Tidak sedikit orang Kristen yang memiliki tradisi mudik Natal dan Tahun Baru, tentu saja menghabiskan banyak sekali biaya. Mereka merasa tidak afdol merayakan Natal dan Tahun Baru bila tidak pulang kampung.

Yang lebih “hebat” lagi, banyak pula orang Kristen yang menyambut dan merayakan Tahun Baru secara istimewa. Mereka merayakannya bersama keluarga besarnya semalam suntuk.

Mereka seperti merasa berdosa bila tak berkumpul dengan keluarga besarnya dalam menyambut dan merayakan Tahun Baru. Malam Tahun Baru benar-benar dianggap peristiwa sangat istimewa. Pada malam itulah mereka saling maaf-memaafkan.

Pada tiap perayaan Natal dan Tahun Baru mereka berusaha keras agar semuanya (yang terlihat mata) serbabaru. Tak sedikit orang Kristen yang merayakan Natal dan Tahun Baru secara hedonistis, berfoya-foya, sangat duniawi. Sang Mesias yang mereka rayakan padahal dahulu kala sesungguhnya lahir dalam kemiskinan yang sangat memilukan. Berbeda dengan Natal, sesungguhnya Tahun Baru bukanlah hari besar gerejawi.
Sebaliknya, pada pesta Paskah keluarga mereka tidak melakukan apa pun di rumah. Komunitas keluarga besar mereka sama sekali tak merayakan pesta Paskah sebagaimana mereka menyambut dan merayakan malam Tahun Baru. Paskah benar-benar mereka anaktirikan sementara Natal dan Tahun Baru mereka anak emaskan.

Sungguh ironis, orang Kristen kok tidak kunjung sadar bahwa Paskah merupakan hari besar atau pesta gerejawi terpenting dan terbesar. Kalau umat Kristen saja sudah menganaktirikan Paskah, lalu bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain untuk tidak terus menganatirikannya?

Kita sering bertanya dalam benak sendiri, apakah ini pertanda kekurangyakinan mereka terhadap kebangkitan Yesus Kristus dari liang kubur? Apakah mereka meragukan kemenanganNya atas maut?

Apakah itu juga pertanda kekurangpercayaan mereka bahwa kelak ada kehidupan setelah kematian, ada kehidupan kekal di sorga? Apakah itu juga menunjukkan bahwa mereka takut menghadapi kematian karena tidak/kurang yakin akan bangkit kembali kelak seperti Yesus Kristus yang telah bangkit dari liang kubur? Entahlah.

Kata orang-orang bijak, tinggi-rendahnya kualitas pemaknaan kita terhadap peringatan sesuatu terlihat jelas dari cara-cara kita merayakannya. Kualitas ucapan syukur kita kepada Tuhan juga terlihat sangat jelas dari cara-cara kita menyatakan ucapan syukur.

Dalam suratnya yang pertama ke jemaat Korintus, Rasul Paulus menulis demikian, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkanNya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.”

Agaknya masih ada sebagian orang Kristen yang tidak tahu bahwa sebelum tahun 313 gereja mengenal hanya satu perayaan Kristen (pesta gerejawi), yakni hari raya Paskah. Perayaan Natal baru dikenal sejak tahun 313.

Beberapa abad kemudian Natal ternyata menjadi “anak emas” sementara Paskah menjadi “anak tiri” dalam pesta-pesta gerejawi. Sesungguhnya kelahiran Yesus Kristus tak berarti apa-apa tanpa kematian dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.

Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup selama-lamanya, bukan Tuhan yang lahir lalu mati untuk selama-lamanya. Umat Kristen umumnya, dan para pemimpin gereja/jemaat khususnya di Tanah Air, perlu segera mengembalikan Paskah sebagai pusat perayaan-perayaan atau pesta-pesta gerejawi.

Kita tak bermaksud untuk menganakemaskan Paskah, lalu menganaktirikan pesta-pesta gerejawi lainnya, terutama Natal. Yang terpenting, kita harus segera kembali mengagungkan hari raya kemenanganNya, kemenangan kita, kemenangan kehidupan kekal atas kematian fana, seperti umat Kristen dahulu kala.

Kepada segenap pembaca yang merayakannya, penulis mengucapkan, Selamat Paskah 2004! Bersyukurlah senantiasa kepada Allah, yang telah memberikan kemenangan kepada kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Syalom!

Oleh S. Sahala Tua Saragih. Penulis adalah Ketua Majelis Jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Bandung masa bakti 2000-2005.

Dikutip dari http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/10/opi03.html

Iklan

5 Comments

  1. Salam..
    Natal, sangat kebetulan dekat dengan tahun abru, dimanfaatkan oleh dunia bisnis jadi momentum meningkatkan revenue. Paskah tidak dekat denagn momen apapun. di kampus dulu perayaan paskah cenderung ke luar kampus, untuk simbol ekspresi kasih , sedangkan natal cenderung internal saja menikmati kedamaian.
    Memang proklaim akan kebangkitan itu penting sekali, mengapa hanya kelahiran yang menjadi besar dan dirayakan. Mengikuti tradisi seluruh dunia juga agaknya. Yang mengharukan setiap tahun ada yang dipaku dan disalib seperti Isa Al Masih di Filipina. Bahwa Isa Al Masih akhirnya bangkit pada hari ketiga dari antara orang mati…mari kita iman bersama…

    • Paskah.. sungguh bukan kebetulan, setiap tahunnya dekat dengan Jumat Agung yang mana adalah hari libur nasional, seperti tercantum di kalender kita semua. Saya yakin cara pandang yang kurang tepat itu bisa dibentuk ulang, direformasi, diluruskan sehingga perayaan Paskah tidak lagi dianaktirikan.
      Intinya bukan cuma kita mau Paskah masuk sebagai jajaran hari libur nasional, dalam kalender, dan sebagainya. Tapi dibalik itu harusnya ada penghargaan terhadap hari raya semua agama, dan terlebih ada pengakuan bahwa Yesus itu bangkit, tidak hanya mati di Jumat Agung, lalu ya sudah selesai, titik.
      Siapa yang harusnya memperjuangkan? Blogger? Ya gak lah, mustinya ini kerjaannya wakil rakyat (itu pun kalau wakil rakyatnya mengerti duduk persoalan dan sudah melewati over-excitement pasca pemilu)

  2. Saya produksi kartu paskah kok, walau e-card.

    • Terima kasih bumikitta, berkat komentar anda saya jadi ingat mau posting kartu paskah yg kami cetak..

  3. baguss…………………………………………………………………………………………………………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: