Skip navigation

Baru kali ini gak ikut kebaktian Paskah subuh. Dulu-dulu bahkan gue yang jadi panitia Paskah, bukan cuma itu tapi juga ikut begadang. Tapi berhubung Anna harus tetap kuliah di hari raya (sayangnya umat agama lain gak anggap Paskah sebagai hari raya), jadi kita mutusin untuk kebaktian sore..

Hari ini Anna dikomentari mama. Tadi pulang kampus jam 14.30 langsung ke rumah untuk nerusin bikin rencana pembelajaran apa gitu buat OeL, pokoke singkatannya RPP.

“Tadi langsung kesini dari kampus?” tanya mama, lalu disambung “sepantesnya kamu pulang dulu ke rumah mbah.”

Gue udah jelasin bahwa Anna dateng ke rumah itu bukan untuk main2 aja, tapi utamanya ngerjain tugas, selingannya bantu2 cuci piring, dan memudahkan karena gak harus bolak-balik Ulujami-PJMI. Rencananya mandi sore di rumah terus bareng ke gereja. Emang kita udah atur supaya sedemikian rupa bisa ringan tenaga dan efisien waktu. Tapi rupanya mama gak ngerti (atau gak mau ngerti?)

Sore jam 4 kurang 15 menit, gue samperin Anna, “Hun, kami mandi di kamar mandiku, aku di kamar mandi papa mama.” Dijawab singkat, “Nggak. Aku mandi di rumah mbah aja.” Wah kalo udah jam segini, berarti gue kudu buru2. Langsung gue meloncat ke kamar mandi gue sendiri, jebyur2 dan gosok gigi ekspres. Pas ganti baju gue sempet liat HP yg lagi dicharge. Kok ada 2 miscall dari Anna. Sampe situ belom curiga. Gue kira Anna mau nyuruh gue buru2 karena kita harus ke rumah mbah dulu.

Keluar kamar, loh ternyata dia udah pergi. Tinggal mama sendiri lagi nonton TV. “Anna tadi pergi ke rumah mbah, katanya kamu udah tau, Yo.” gitu kata mama. SMS dari Anna bilang dia harus ke rumah mbah karena ada yang ketinggalan.

Meski dengan alasan itu, segera gue sadar ini akibat perkataan mama yang pasti mendarat kasar di hati Anna. Setelah berhasil ditelpon Anna bilang, “Aku udah di ojek (mas Wawan) menuju rumah mbah. Nanti aja kita ketemu di gereja.”

Setelah kebaktian, Anna mengkonfirmasi apa yang gue pikirkan tadi. Itu karena perkataan mama. Kita sebagai “yang muda” akan mengambil sikap mengalah dan nerima. Anna pun pesan supaya gue gak bahas soal ini sama mama, kecuali ditanya.

Anna, kuharap kamu gak menyerah membangun relasi dengan orangtuaku. Komunikasi memang masih belum lancar. Apa yang terucap pesannya tidak sampai sepenuhnya, dan apa yang tidak terucap diartikan berbeda.

Bersiaplah untuk menghadapi “kejutan-kejutan” lain, terutama nanti waktu kita sudah hidup bersama dan tinggal di rumah orangtuaku. Kita harus belajar menentukan jarak aman dalam berkomunikasi, supaya tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat. Kita akan punya area privasi sendiri, dan orang lain (termasuk orang tua kita) akan menghargai area itu. Kita akan punya satu pendapat, sehingga aku atau kamu tidak berada di posisi sulit antara anak dan orang tua. Kamu disakiti, aku pun sakit. Kamu dihargai, aku pun bangga. Kamu dan aku, kita akan menjadi satu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: